Jumat, 22 Juli 2011

Bilirubin Pada Bayi

Jangan anggap remeh, ya, Bu-Pak. Segera konsultasikan
ke dokter agar tak
berakibat fatal. Sekitar 40-50 persen bayi lahir cukup
bulan,jelas
dr.Purnamawati S. Pujiarto, SpA(K), MMPaed., mengalami
kuning. "Biasanya
kuningnya itu disebut kuning fisiologis alias bukan
karena kelainan atau
penyakit melainkan fungsi organnya, yaitu hati, belum
matang." Yang seperti
ini, lanjutnya, biasanya tak berbahaya karena akan
cepat teratasi
dengan berjalannya waktu.

Bayi kuning, ungkap spesialis anak dari Bagian
Hepatologi Anak RSUPN Cipto
Mangunkusumo Jakarta ini, disebabkan meningkatnya
kadar bilirubin dalam
darah. Normalnya, secara berkala sel darah merahnya
akan dipecah. Nah,
kandungan "sampah" dari proses pemecahan itu disebut
bilirubin indirek.
Semasa janin, bilirubin indirek ini akan dibuang oleh
plasenta dan masuk ke
hati ibu untuk selanjutnya diproses di hati menjadi
bilirubin direk dan
dibuang tinja. Bilirubin indirek memang harus dibuang
karena dalam kadar
tinggi dapat bersifat sebagai racun.
Segera setelah lahir, bayi harus mengolah sendiri
bilirubin indirek di
hatinya. Tapi karena fungsi hatinya belum sempurna
lantaran belum matang,
"Proses penghancuran dan pembuangan bilirubin jadi
lambat, hingga bilirubin
indireknya tetap tinggi. Fungsi tersebut baru bisa
berlangsung normal bila
organ hatinya sudah matang, yakni sekitar 3-
4 hari setelah lahir." Saat itu hati sudah mampu
mengubah bilirubin indirek
menjadi bilirubin direk, sekaligus membuangnya.
Makanya, bayi kuning
fisiologis biasanya akan mulai terlihat di hari kedua
dan akan mencapai
puncaknya pada hari ketiga sesudah lahir. "Mulanya
kuning di sekitar wajah
lalu menjalar ke tubuh. Bayinya, sih, tetap
terlihat aktif dan sehat. Menyusu dan tangisnya juga
kuat." Melewati hari
ketiga, kadar bilirubin pelan-pelan menurun dan
umumnya di hari ke-7 bayi
tak kuning lagi.


PATOKAN PENTING
Bayi kuning sebetulnya bisa dideteksi orang tua lewat
warna mata bayi. Yang
perlu dipahami, kuningnya karena fisiologis atau
akibat penyakit. Untuk
itu,
ada sejumlah patokan yang patut dipelajari:
. Jika kuningnya timbul dalam 24 jam pertama
setelah Jika dalam sehari
kadar
bilirubin meningkat secara pesat atau progresif.
. Jika bayi tampak tidak aktif, tak mau menyusu,
cenderung lebih banyak
tidur, disertai suhu tubuh yang mungkin meningkat atau
malah turun.
. Jika bayi kuning lebih dari dua minggu.
. Jika air kencingnya berwarna tua seperti air teh.


Nah, bila itu yang terjadi, jangan buang waktu, segera
bawa anak ke dokter
agar tak berakibat fatal. Sebab, seperti dijelaskan
Wati, "Kadar bilirubin
indirek yang terlalu tinggi dapat merusak
sel-sel otak hingga bayi
mengalami
kejang-kejang dan di kemudian hari
bisa memunculkan kelainan neurologis." Dalam keadaan
sehat dan normal, otak
memiliki pelindung hingga tak sembarang zat bisa
menembusnya. Sementara
pada
bayi yang sakit berat, pelindung tadi ikut terganggu
fungsinya. Akibatnya,
zat-zat yang bersifat toksik atau racun, termasuk
bilirubin indirek, bisa
menembus dan masuk ke sel-sel otak. Dampak jangka
pendek, bayi akan
mengalami kejang-kejang. Sementara jangka panjang,
anak bisa mengalami
cacat
neurologis. Jadi, penting sekali mewaspadai keadaan
umum si bayi. Kalau
kondisinya baik, tetap aktif, orang tua tak perlu
cemas. Lain halnya bila
bayinya tidur terus, emoh menyusu, sering muntah,
pasif, suhunya berubah
(panas atau dingin), "Bayi harus terus dimonitor
secara ketat."


AKIBAT KOLESTASIS
Bilirubin direk juga bisa menyebabkan bayi kuning
akibat organ hati
berkelainan/sakit. Kolestasis; apa pun kelainan
pada hati atau sistem
empedu
ini, jelas Wati, menyebabkan terganggunya proses
pembuangan semua bahan
toksik yang seharusnya dibuang oleh hati dan saluran
empedu ke tinja.
Akibatnya, bahan beracun tersebut menumpuk di
hati dan menyebabkan
kerusakan
sel-sel hati. "Bila keadaan ini berlangsung lama dan
terus-menerus, satu
saat hati mengalami komplikasi berat yang disebut
sirosis. Dalam hal ini
sel-sel hati diganti oleh jaringan ikat hingga hati
menciut, keras, dan tak
dapat lagi menjalankan fungsinya yang sangat vital
bagi kehidupan si
individu.
Sekilas, gejala kolestasis sama dengan kuning
fisiologis. "Tapi pada
kolestasis, umumnya air seni berwarna gelap
akibat keluarnya bilirubin
direk
di urin. Yang jelas, penyakit ini perlu segera
ditangani dokter.
Ketidaktahuan, kesalahan, atau keterlambatan diagnosa
dapat mengakibatkan
gangguan pertumbuhan bayi, penyakit hati yang
berlangsung kronis, dan
berkomplikasi sirosis yang ujungnya berakhir dengan
kematian."
Secara garis besar, kolestasis dibagi dua, yakni,
akibat kelainan di dalam
hati, atau akibat kelainan saluran empedu di luar
hati.


Penyebab kolestasis di dalam hati dibagi dua yaitu:
. Akibat infeksi virus, kuman/bakteri, parasit. Semua
infeksi berat di mana
mikroorganisme tadi sudah memasuki peredaran darah,
dapat menyebabkan
kolestasis, karena dibawa oleh darah ke hati dan
merusak sel-sel hati.
Sebagian besar kolestasis pada bayi baru lahir
yang disebabkan infeksi
virus
akan berakhir dengan kesembuhan.
Sedangkan yang diakibatkan infeksi berat (sepsis),
memerlukan terapi
antibiotik yang tepat.


. Bukan disebabkan infeksi. Penyebabnya, antara lain,
penyakit akibat
gangguan metabolisme (bisa karbohidrat, protein atau
lemak maupun gangguan
metabolisme asam empedu). Penyebab lainnya adalah
kelainan
bawaan/kongenital, gangguan pembentukan saluran empedu
di dalam hati,
kerusakan hati akibat obat, sindrom down, atau
kelainan
hormonal seperti hipotiroid, dan sebagainya. Sementara
gejala klinisnya,
antara lain, air seni berwarna cokelat atau kuning
tua, warna tinja amat
pucat atau selang-seling dengan warna kuning. Umumnya
terjadi gangguan
pertumbuhan sejak bayi lahir
(berat lahir kurang). Menurut Wati, sepertiga dari
kolestatis memerlukan
upaya operasi, yang dilakukan sebelum bayi berusia 2
bulan agar hasilnya
optimal.


Kuning Yang Berisiko
Berikut faktor penyebab munculnya kuning yang bukan
fisiologis dan berisiko
membahayakan bayi.
. Infeksi berat : Infeksi yang berat dapat
meningkatkan proses pemecahan
sel darah merah hingga bayi tampak kuning. Infeksi
berat yang dimaksud
adalah infeksi di mana kuman atau mikroorganisme
penyebab infeksi tersebut
sudah menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah.
Jadi, bukan infeksi
yang terbatas di satu area saja, semisal di
tenggorokan atau telinga.
. Kekurangan enzim G 6 PD (glukosa-6-fosfat
dehidrogenase):
Enzim ini dibutuhkan oleh rangkaian reaksi yang
berfungsi menghasilkan
sumber energi bagi sel darah merah agar bisa
menjalankan fungsi
metabolismenya. Bila sel darah merah kekurangan enzim
ini, energi pun
berkurang. Akibatnya, sel darah merah akan mudah pecah
atau rusak.


. Beda golongan darah dengan ibu :
Ketidakcocokan golongan darah dapat terjadi bila ibu
rhesus negatif dan
anaknya rhesus positif atau bila ibu golongan darah O
dengan bayi golongan
darah non-O. Namun demikian biasanya perbedaan ini
sudah sejak awal
diketahui dokter kandungan hingga dapat
dilakukan antisipasi yang
diperlukan
guna mencegah terjadinya peningkatan bilirubin
indirek yang drastis. Di
lain
pihak, pada ketidakcocokan golongan darah O, bila
perlu dokter
mempertimbangkan transfusi tukar/ganti darah (exchange
transfusion).


. Penyakit genetik : Ada beberapa penyakit karena
genetik di mana organ
hati tak punya enzim untuk mengubah bilirubin indirek
menjadi bilirubin
direk. Namun kondisi seperti ini relatif jarang
terjadi.


Batas Normal Bilirubin dan Terapi

Pada bayi baru lahir, jelas Wati, pemeriksaan
bilirubin umumnya sudah
termasuk dalam pemeriksaan rutin bayi baru lahir.
"Dalam sekali pengambilan
darah, umumnya sudah termasuk untuk memeriksa golongan
darah, hormon tiroid
gondok, dan enzim tertentu di darah yang biasa disebut
G-6-PD.

Wati juga menyebutkan, batas normal bilirubin bayi
baru lahir tak lebih
dari
10 mg/dl. Lebih dari itu, biasanya akan diberi terapi
sinar (blue light)
saat berada di rumah sakit. Terapi ini bertujuan
mengubah bilirubin indirek
yang toksik menjadi zat yang tidak toksik.
Lama-sebentarnya penyinaran
berbeda pada setiap bayi. Pada bayi kuning fisiologis
yang lahir cukup
bulan, dengan terapi sinar sehari saja kadar
bilirubinnya sudah turun.
Sementara bayi lahir prematur mungkin perlu waktu
lebih lama lagi untuk
menurunkan kadar bilirubinnya. Bayi prematur memang
termasuk rentan
mengalami kuning karena organ tubuhnya belum tumbuh
sempurna. Sementara
mengurangi kuning pada bayi dengan cara menjemurnya di
matahari pagi,
menurut Wati, sudah harus ditinggalkan karena
fungsinya ternyata memang
bukan membantu mengubah bilirubin indirek.
"Boleh-boleh saja menjemurnya di
matahari pagi. Namun tujuannya semata agar bayi kena
sinar matahari,
terutama untuk vitamin D yang diperlukan tulang.
Sebaiknya lakukan pagi
hari
dan tak perlu lama-lama."

Sumber : dari sini

Fabian Almaliq Pradana, keponakanku lahir hari Sabtu tanggal 16 Juli 2011 dengan berat 2,7kg dan panjang 46cm. Setelah 3 hari dirumah ternyata hari Kamis tanggal 21 Juli 2011 harus kembali di rawat di RS lagi karena bilirubinnya tinggi , bilirubin Bian saat itu 17 mg/dl. Hasil tes perhari ini tanggal 22 Juli 2011 hasilnya sudah turun jadi 15 mg/dl.. alhamdulillah sudah turun bilirubinnya, yang sehat ya sayang.. bude insya Allah ke Jakarta dalam waktu dekat..udah ga sabar pengen gendong dede Bian :)

2 komentar:

  1. lagi info tentang bayi kuning di SIHAT SELALU - Penyakit Bayi Kuning

    BalasHapus
  2. mantap...terimakasih,tulisan ini sangat bermanfaat.

    BalasHapus

Silahkan berkomentsr disini